MAKALAH
MATA KULIAH PENGANTAR EKONOMI MIKRO

Universitas PGRI Adi Buana Surabaya
“BIAYA-BIAYA PRODUKSI”
SUB BAB
“PENENTUAN HARGA FAKTOR PRODUKSI”
“PENENTUAN HARGA FAKTOR PRODUKSI
MODAL”
ditulis oleh : Desi Nur Damaiyanti / Febby Andriani
Kelas : Akuntansi D. 2014
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
TUJUAN
ISI :
A. PENGERTIAN
BIAYA-BIAYA PRODUKSI
B. PENENTUAN
HARGA FAKTOR PRODUKSI
C. PENENTUAN
HARGA FAKTOR PRODUKSI MODAL
D. KLASIFIKASI
BIAYA
E. BIAYA-BIAYA
RERATA
DAFTAR PUSTAKA
KATA PENGANTAR
Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha
Esa, kami dapat menyelesaikan tugas makalah “Pengantar Ekonomi Mikro” . Materi
yang bahas pada tugas ini adalah mengenai persoalan biaya-biaya produksi.
Persoalan biaya-biaya produksi (cost of production) akan
dibicarakan menurut urutannya, yaitu biaya tetap (fixed cost) , biaya variabel
(variabel cost) dan biaya total (total cost). Serta biaya-biaya rerata yang
akan dibagi menjadi tiga konsep, yakni biaya tetap rerata, biaya variabel
rerata dan biaya rerata.
Semoga dengan penulisan makalah ini dapat memberikan
informasi yang mudah dimengerti oleh pembaca. Terimakasih. Dan selamat membaca.
Penulis
TUJUAN
Tujuan penulisan
makalah ini :
Mengerti arti
dari Biaya-biaya Produksi.
Memahami fungsi
biaya-biaya produksi dalam perusahaan
ISI
A. PENGERTIAN
BIAYA-BIAYA PRODUKSI
Biaya Produksi adalah biaya yang harus
dikeluarkan oleh pengusaha untuk dapat menghasilkan output. Kegiatan produksi
dapat terlaksana apabila tersedia faktor-faktor produksi. Seorang pengusaha (entrepreneur)
yang ingin melakukan produksi tentu harus terlebih dahulu menyediakan faktor-faktor produksi itu.
Semua
faktor produksi itu tidak didapat dengan cuma-cuma, melainkan harus membeli.
Karena tidak ada satupun faktor produksi yang merupakan barang bebas, semuanya
adalah barang ekonomis yang jumlah atau tersedianya adalah langka (scarce)
sehingga dalam mendapatkannya harus
dilakukan pengorbanan. Adapun bentuk pengorbanan yang jelas adalah pembelian.
Biaya
produksi, dengan demikian, tidak lebih dan tidak kurang daripada penjumlahan harga-harga
faktor produksi. Sekalipun besarnya biaya produksi untuk setiap output tidak
semata-mata hanya tergantung pada harga pembelian.
Jelasnya
biaya produksi adalah nilai semua faktor produksi yang dipergunakan untuk
menghasilkan (memproduksi output).
Maksud
istilah nilai adalah bahwa semua faktor produksi yang dipergunakan untuk
menghasilkan output itu haruslah dinilai dengan uang, jadi harus ditetapkan
harganya.
B. PENENTUAN
HARGA FAKTOR PRODUKSI
Suatu output tertentu yang dihasilkan dengan sesuatu tingkat
teknologi tertentu, katakanlah 1.000 buah sepeda dalam seminggu, oleh sebuah
perusahaan sepeda, misalnya, tentu akan mempergunakan serangkaian input atau
faktor produksi yang dipergunakan untuk menghasilkan sekian banyak jam kerja
darai pelbagai jenis pekerja, pengawas, manager dan ahli-ahli teknik, sekian
banyak besi dan baja, kawat-kawat, cat,
biaya listrik dan air dan jasa-jasa lain, kaca, serta sekian banyak lagi jam
kerja mesin yang semuanya mencerminkan serta membutuhkan pembiayaan. Untuk mrngetahui
biaya dari segala macam penggunaan input ini, maka nilai dari setiap input itu,
diukur dengan uang dan haruslah dihitung. Jumlahnya merupakan biaya total
(total cost) pembuatan 1.000 buah sepeda itu dalam seminggu
.
C. PENENTUAN
HARGA FAKTOR PRODUKSI MODAL
Biaya faktor produksi dalam menghasilkan
output itu tergantung sepenuhnya pada dua hal, yaitu :
Berapa besar biaya yang harus dikeluarkan
oleh perusahaan untuk mendapatkan input; yakni harga input.
Efisiensi perusahaan yang bersangkutan dalam mempergunakan
inputnya. Dua perusahaan yang memiliki input yang persis sama, tetapi yang satu
bekerja dengan lebih efisien (dengan efisiensi yang lebih besar) dari yang
lain, maka sudah barang tentu bahwa perusahaan yang bekerja dengan lebih
efisien itulah yang dapat lebih menekan biaya produksinya
Telah sejak semula para ahli ekonomi memandang penting
persoalan biaya produksi. Alasannya adalah karena jasa-jasa faktor produksi itu
adalah langka adanya, dan dengan demikian bernilai. Jadi, dengan mempergunakan
faktor-faktor produksi, perusahaan yang bersangkutan telah mempergunakan
benda-benda yang bernilai. Oleh karena itu tujuan utama suatu perusahaan adalah
untuk mendapatkan laba semaksimal
mungkin
Oleh sebab itu, pengetahuan akan besarnya biaya-biaya produksi
merupakan .prakondisi untuk mengetahui besarnya laba atau keuntungan, sedangkan
pengetahuan akan keuntungan ini perlu sekali untuk dapat memahami tingkah laku
(behavior) perusahaan. Demikianlah, pengetahuan akan biaya-biaya produksi itu
perlu.
Untuk melukiskan tingkah laku aktual
perusahaan
Untuk dapat meramalkan bagaimana tingkah
laku perusahaan dalam menghadapi perubahan-peruabahan kondisi yang dihadapinya
Untuk membantu perusahaan yang bersangkutan
dalam menentukan kebijaksanaan yang terbaik yang dapat dilakukannya dalam mencapai
tujuannya (yakni, mencapai laba maksimum)
Untuk dapat memberikan penilai betapakah
caranya perusahaan mengelola sumber-sumber (resources).
Dalam pada itu, sumber-sumber yang dipergunakan didalam
produksi dapat dibagi menjadi dua ketegori utama. Yang pertama adalah
sumber-sumber/input yang jumlahnya tetap saja sekalipun jumlah output yang
dihasilkan itu tetap bertambah ataupun
berkurang. Sumber-sumber sedemikian ini disebut sebagai sumber-sumber tetap
(fixed resources). Sumber-sumber/input yang dimaksud disini dapat
berupa tanah, bangunan, mesin-mesin besar, dan sebagainya. Yang kedua adalah
sumber-sumber/input yang jumlahnya senantiasa berubah-ubah seiring dengan
berubah-ubahnya output yang dihasilkan. Artinya, input jenis kedua ini akan
bertambah jika output yang dihasilkan bertambah, dan berkurang jika output
yanag dihasilkan berkurang. Sumber-sumber sedemikian ini disebut sebagai
sumber-sumber variabel (variabel resources). Sumber-sumber yang disebutkan
disini antara kain bahan mentah, pekerja dan sebagainya.
D. KLASIFIKASI
BIAYA
Klasifikasi biaya-biayanya, yakni : biaya tetap (fixed cost)
dan biaya variabel (variable cost). Fixed cost adalah biaya-biaya untuk fixed
resources, sedangkan variable cost adalah biaya untuk variable resources.
Oleh karena
fixed cost yang harus ditanggung oleh suatu perusahaan (dan daemikian pun
dengan halnya dengan variable cost) bukan hanya berkenaan dengan satu jenis
ongkos atau biaya saja – tetapi terdiri dari beberapa jenis biaya –maka penyebutan
istilah fixed cost itul maksudnya adalah total fixed cost (TFC), dan penyebutan
istilah variable cost itu maksudnya adalah total variable cost (TVC). Oleh
karena itu, apabila disebutkan perkataan fixed cost, maka yang dimaksud adalah
total fixed cost, sedangkan jika disebutkan variable cost maka yang dimaksudkan
adalah total variable cost.
1. Total
Fixed Cost
Fixed cost adalah
biaya untuk fixed resources, dengan demikian,
oleh karena perusahaan tidak dapat mengubah-ubah jumlah sumber-sumber
itu dalam proses produksinya, maka fixed cost itupun akan tetap saja besarnya,
tidak perduli jumlah output yang dihasilkan. Gambaran mengenai fixed cost
TABEL : Biaya-biaya Total
|
Output Total Fixed Cost Total Variable Cost Total Cost
|
|
0
Rp
60,- Rp 0,- Rp
60,-
|
|
1 Rp 60,- Rp 20,- Rp
80,-
|
|
2 Rp 60,- Rp 32,- Rp 92,-
3 Rp 60,- Rp 39,- Rp
99,-
|
4. Rp 60,- Rp
44,- Rp 104,-
5. Rp
60,- Rp
48,- Rp 108,-
6. Rp 60,- Rp
54,- Rp 114,-
7. Rp 60,- Rp
63,- Rp
123,-
8. Rp 60,- Rp 80,- Rp 140,-
|
Gambar 1.1
Pada kolom 2 (kolom TFC), terlihat didalam tabel itu,
bahwa besarnya fixed cost itu tetap saja, berapapun jumlah output yang
dihasilkan, yaitu sebesar Rp 60,-
Contoh-contoh bagi fixed cost (biaya tetap) ini dalam
keenyataannya adalah sewa (rent), asuransi (insurance), biaya pemeliharaan
(maintenance cost), biaya penghapusan (depreciation), bunga utang (interest),
gaji (baik gaji karyawan maupun gaji pimpinan), dan sebagainya. Kesemua biaya
yang tergolong dalam fixed cost itu bersifat independen (tidak tergantung) terhadap besarnya output
yang dihasilkan.
Oleh karena sifat indepensinya terhadap jumlah output
inlah, maka bentuk kurva TFC nya
costs
|
O output gambar 1.2
Kurva
TFC digambarkan sebagai sebuah garis lurus yang sejajar dengan sumbu datar
(sumbu output. Besarnya fixed cost itu juga akan tetap saja, sekalipun jumlah
output yang dihasilkan adalah 0, atau tidak ada outpun sama sekalli.
Demikianlah, fixed cost tetap harus dibayar juga, sekalipun output adalah nol.
2. Total
Variable Cost (Biaya Variabel Total)
Variable cost merupakan biaya variable resources, sesuai
dengan sebutannya sebagai biaya variabel, maka besarnya variable cost itupun akan berubah –ubah pula seiring
dengan berubah-ubahnya jumlah output
yang dihasilkan. Dengan demikian, biaya variabel itu akan naik jika jumlah output
yang dihasilkan bertambah, dan akan turun jika jumlah output yang dihasilkan
itu juga berkurang. Besarnya biaya variabel itu berbanding lurus dengan
bertambahnya output yang dihasilkan.
TVC
Biaya (Rp)
N
0 Output gambar
1.3
Variable
cost adalah biaya yang senantiasa berubah searah dengan berubahnya jumlah
output yang dihasilkan. Itulah sebabnya, kurva TVC ini mengarah ke kanan atas.
Bagian kiri kurva itu landai, dan bagian kanannya curam. Batas antara keduanya
adalah titik N. Kurva variable cost akan memiliki pola seperti : naik dengan
tajam, lalu agak landai, untuk kemudian naik lagi dengan tajam.
Contoh-contoh
variable cost itu, dapat disebutkan disini antara lain misalnya :
pembayaran-pembayaran untuk upah buruh (hendaknya senantiasa diingat, bahwa
upah tidaklah sama dengan gaji), bahan-bahan mentah, bahan bakar, pengangkutan
dan sebagainya.
3. Total
Cost (Biaya Total)
Biaya-biaya total (total cost) merupakan penjumlahan daripada
jenis biaya yang ada. Sebenarnya demikian total cost (TC) merupakan penjumlahan
seluruh biaya yang dikeluarkan baik untuk fixed resources maupun untuk variable
resources; atau dengan kata lain, total cost adalah jumlah fixed cost dan
variable cost.
TC = FC
+ VC
Dimana TC adalah biaya total , FC adalah biaya tetap dan VC
adalah biaya variabel.
Oleh karena itu biaya variabel mereupakan unsur biaya total
seperti itulah, maka biaya total itupun lalu memiliki sifat sebagaimana yang
juga dimiliki oleh biaya variabel, yaitu bahwa besarnya biaya total itu
berubah-ubah seiring dengan berubah-ubahnya jumlah output yang dihasilkan. Kenyataan
bahwa biaya tetap juga merupakan unsur biaya total tidaklah mengubah sifat
biaya total itu. Sebab biaya tetap merupakan biaya yang tetap tidak berubah
oleh karena adanya perubahan jumlah output yang dihasilkan.
(a) 
(b)

Biaya (Rp) TC Biaya
(Rp)
TC
VC
FC VC
Gambar
1.4
Hubungan antara kurva TC dan kurva VC.
Selisih antara VC dan TC adalah FC (yakni TC = FC + VC).
Gambar (a) menunjukkan bahwa, oleh karena biaya tetap (FC) itu selalu tetap
(sebesar OA), maka (i) jarak yang memisahkan antara kurva TC dan kurva VC
selalu sama, yakni sebesar OA, dan (ii) kurva TC dan kurva VC itu memiliki
bentuk yang persis sama , hanya saja kurva TC terletak diatas kurva VC dan
tidak dimulai dari titik nol.
Gambar (b) menunjukkan sekali lagi bahwa TC = FC + VC dan
bahwa kurva TC dimulai dari tingkat biaya tetap sebesar Rp OA.
Maka besarnya biaya
total :
1. Merupakan
penjumlahan biaya tetap dan biaya variabel,
2. Berubah-ubah
seiring dengan perubahan jumlah output yang dihasilkan.
Dalam pada itu, apabila biaya total itu digambarkan dalam
bentuk grafik, maka gambarnya terlihat seperti gambar 1.4 diatas. Bentuk kurva
TC sama dengan bentuk kurva VC, serta antara keduanya (yakni antara kurva biaya
total dan kurva biaya variabel) terpisahkan oleh suatu jarak vertikal yang
selalu sama. Tentu saja demikian, sebab apa yang digambarkan sebagai kurva
TC didalam gambar 1.4 itu tidak lebih dan tidak kurang daripada
kurva VC yang digeser ke atas. Pergeseran itu adalah sebesar biaya tetap yang
ada. Dalam gambar diketahui bahwa biaya tetap adalah sebesar OA, maka sampai sejauh
OA itulah kurva biaya variabel digeser ke atas, sehingga hasil akhirnya adalah
terbentuknya sebuah kurva biaya total. Itulah sebabnya, kurva TC dan kurva VC
itu terpisahkan oleh jarak vertikal yang selalu sama, berapapun jumlah output
yang dihasilkan. Besarnya jarak vertikal yang memisahkan kurva TC dengan kurva
VC itu sudah barang tentu adalah sama dengan OA, sebab selisih antara biaya
total dan biaya variabel untuk setiap tingkat output adalah sebesar biaya
tetap.
Semua keterangan diatas juga menerangkan, mengapa kurva
biaya total TC tidak bermula dari titik nol. Sebabnya adalah karena biaya total
merupakan penjumlahan biaya variabel dan biaya tetap. Pada saat tidak ada
output yang dihasilkan sama sekali, yaitu dititik nol (pada saat besarnya biaya
variabel adalah yang juga sama dengan nol), maka biaya tetap tidaklah sama
dengan nol pula. Dengan demikian, besarnya biaya total pada saat tidak ada
output yang dihasilkan sama sekali
adalah sama dengan biaya tetap.
E. BIAYA-BIAYA
RERATA
Dalam konsep biaya-biaya total (biaya tetap
total, biaya variabel total dan biaya total) ketiga-tiganya dapat dicari nilai
reratanya. Rerata sebenarnya adalah kata lain saja untuk mengatakan per satuan
output, atau setiap satuan output.
Macam-macam biaya rerata :
1. Average
Fixed Cost (Biaya Tetap Rarata)
Fixed cost curve (kurva biaya tetap) memiliki bentuk yang
datar sama sekali (horizontal). Adapun average fixed cost (AFC) adalah biaya tetap untuk setiap satuan
output yang dihasilkan. Dengan demikian, biaya tetap rerata didapat dengan cara
membagi biaya tetap dengan jumlah output, atau ;
AFC
= FC : Q
Dimana AFC adalah biaya tetap rerata, FC adalah biaya tetap
dan Q adalah jumlah output yang dihasilkan.
|
Output
|
Avarage Fixed Cost (AFC)
|
Average Variable cost (AVC)
|
Average Cost (AC)
|
Marginal Cost (MC)
|
|
0
|
-
|
0
|
*
|
60
|
|
1
|
60
|
20
|
80
|
20
|
|
2
|
30
|
16
|
46
|
12
|
|
3
|
20
|
13
|
33
|
7
|
|
4
|
15
|
11
|
26
|
5
|
|
5
|
12
|
9,6
|
21,6
|
4
|
|
6
|
10
|
9
|
19
|
6
|
|
7
|
8,57
|
9
|
17,57
|
9
|
|
8
|
7,5
|
10
|
17,5
|
17
|
|
9
|
6,67
|
12
|
18,67
|
28
|
|
10
|
6
|
15
|
21
|
42
|
Gambar 1.5
*seharusnya isinya tak terhingga (∞), sebab sesuatu bilangan
apabila dibagi dengan nol, niscaya hasilnya adalah tak terhingga.
Tetapi penyebutan itu sendiri tidak akan membawa manfaat
apapun, sebab dalam kenyataanya tak seorangapun yang dapat membagi 50 dengan nol. Itulah sebabnya,
didalam grafiknya akan dimulai dari tingkat output terbesar (1) saja dan tidak
dari nol.
Didalam tabel pada gambar 1.5, besarnya biaya teatap rerata
terlihata pada kolom dua. Ada sebuah kenyataaan dari angka-angka yang terdapata
dalam tabel tersebut. Disitu terlihat bahwa besarnya biaya tetap rerata itu
senantiasa menurun dengan bertambahnya
jumlah output yang dihasilkan. Oleh karena biaya tetap itu samasaja
untuk setiap jumlah output yang dihasilkan, maka semakain banyak jumlah output
itu , itu berarti bahw biaya dipikul bersama-sama oleh jumlah output yang
semakin banyak itu.
biaya rata-
rata (Rp)
0
Gambar 1.6
Biaya tetap rata-rata (average fixed cost)
adalah biaya tetap per satuan output (FC/Q). Bentuk kurvanya adalah sebuah
lengkungan hiperbolik. Terlihat bahwa kurva AFC merupakan sebuah garis lengkung
yang mengarah ke kanan bawah, sebab harus diingat bahwa kedua ujung kurva AFC
itu tidak pernah menyinggung (apalagi memotong) sumbu-sumbunya.
2. Average
Variable Cost
Biaya variabel raerata didapat dengan cara
membagi biaya variabel dengan jumlah output.
AVC
= VC : Q
Dimana AVC adalah average variable cost, VC
adalah variable cost, dan Q adalah jumlah output yang dihasilkan.
Biaya variabel rerata adalah besarnya biaya
variabel untuk setiap satuan output, besarnya biaya variabel yang ditanggung
oleh setiap output yang dihasilkan.
Didalam tabel 1.5, biaya variabel rerata di
kolom tiga. Terlihat dengan jelas bahwa baiya variabel rerata meraupakan hasil
bagi antara biaya variabel total (dari kolom tiga) dengan jumlah output.
Adapun biaya variable rerata selalu
berbentuk U :

Biaya
3
rata-
rata
(Rp)
0 Q Output Gambar
1.7
Biaya variabel
rata-rata (average variable cost) adalah biaya variable persatuan output (VC/Q).
Bentuk kurvanya menyerupai huruf U. Titik terendah kurva biaya variabel
rata-rata ini (titik K) disebut shut-down point atau titik gulung tikar,
maksudnya, jika penjualan output lebih rendah daripada OL satuan, maka firm
yang bersangkutan harus gulung tikar.
3. Average
Cost (Biaya Rerata)
Average cost adalah biaya rerata
atau biaya per satuan output.
Average cost adalah besarnya biaya
total per satuan output.
AC
= TC : Q
Dimana AC adalah average cost, TC adalah total cost , dan Q
adalah jumlah output yang dihasilkan.
Sebagaimana biaya total merupakan penjumlahan biaya tetap
dan biaya variabel maka demikian pun halnya biaya rerata merupakan penjumlahan
biaya tetap rerata dan biaya variabel rrata.
AC
= AFC + AVC
Kenyataan ini dapat dibuktikan dalam tabel pada gambar 1.5.
Didalam tabel itu , biaya rerata terdapat didalam kolom 4
dan untuk setiap jumlah output yang dihasilkan, biaya rerata ini merupakan
penjumlahan antara biaya tetap rerata dengan biaya variabel rerata. Hal inipun
dapat pula dilihat dari kenyataan bahwa oleh karena :
FC
+ VC = TC
maka, sebagai
akibatnya, sudah tentu bahwa
Q
Q Q
atau AFC + AVC = AC
oleh karena biaya rerata merupakan penjumlahan biaya tetap
rerata dengan biaya variabel rerata seperti itulah, maka ia pun memiliki sifat
yang dimiliki oleh kedua-duanya
4. Marginal
Cost
Marginal cost adalah biaya
marginal atau biaya tambahan untuk setiap output. Dengan demikian marginal cost dapat diketemukan
dengan cara :
atau MC = (TC2 ─ TC1 ) : (Q2 ─ Q1)
atau,
jika perubahan output itu kecil sekali, maka MC didapatkan dari turunan pertama
biaya total TC terhadap output , yakni :
MC = dTC : dQ
Dimana
MC adalah biaya marginal, TC adalah biaya total dan Q adalah jumlah output
yanga dihasilkan. Dari prhitungan semacam itulah didapatakan angka-angka
seperti yang tercantum didalam tabel pada gambar 1.5 , kolom terakhir. Angka-angka biaya marginal
didalam tabel itu terlihat bahwa nilai-nilai biaya mula-mula turun, dan
kemudian sesudah itu lalu naik, atau dengan kata lain, bentuk kurva biaya
marginal itu juga berbentuk menyerupai huruf U.
Biaya
marginal MC juga dapat dinyatakan dari biaya variabel VC :
MC
= dTC
: dQ
atau
MC = (d (FC + VC)) : dQ
yakni MC = (dFC : dQ) + (d VC : dQ)
atau MC = 0 +
(dVC : dQ)
atau MC = dVC : dQ
memperhatikan
keterangan diatas, dapatlah kemudian dengan mudah dipahami bahwa :
MC
= (VC2 ─ VC1) : (Q2 ─ Q1)
DAFTAR PUSTAKA
Buku yang dipakai sebagai dasar
penulisan makalah ini :
Rosyidi, Suherman: Pengantar Teori Ekonomi, Rajawali Pers,
Jakarta,2001.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar