Minggu, 12 Oktober 2014

BIAYA-BIAYA PRODUKSI . UNIPA ADIBUANA. F.EKONOMI.



MAKALAH
MATA KULIAH PENGANTAR EKONOMI MIKRO
Logo UNIPA.jpg
Universitas PGRI Adi Buana Surabaya

“BIAYA-BIAYA PRODUKSI”
SUB BAB
“PENENTUAN HARGA FAKTOR PRODUKSI”
“PENENTUAN HARGA FAKTOR PRODUKSI MODAL”

ditulis oleh : Desi Nur Damaiyanti /  Febby Andriani
Kelas : Akuntansi D. 2014

 
DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR                                                                               
TUJUAN                                                                                                    
ISI :
A.    PENGERTIAN BIAYA-BIAYA PRODUKSI
B.     PENENTUAN HARGA FAKTOR PRODUKSI          
C.     PENENTUAN HARGA FAKTOR PRODUKSI MODAL
D.    KLASIFIKASI BIAYA             
E.     BIAYA-BIAYA RERATA
DAFTAR PUSTAKA                                                                                                        










KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, kami dapat menyelesaikan tugas makalah “Pengantar Ekonomi Mikro” . Materi yang bahas pada tugas ini adalah mengenai persoalan biaya-biaya produksi.
Persoalan biaya-biaya produksi (cost of production) akan dibicarakan menurut urutannya, yaitu biaya tetap (fixed cost) , biaya variabel (variabel cost) dan biaya total (total cost). Serta biaya-biaya rerata yang akan dibagi menjadi tiga konsep, yakni biaya tetap rerata, biaya variabel rerata dan biaya rerata.
Semoga dengan penulisan makalah ini dapat memberikan informasi yang mudah dimengerti oleh pembaca. Terimakasih. Dan selamat membaca.


Penulis                    


TUJUAN
 Tujuan penulisan makalah ini :
Mengerti arti dari Biaya-biaya Produksi.
Memahami fungsi biaya-biaya produksi dalam perusahaan




ISI
A.    PENGERTIAN BIAYA-BIAYA PRODUKSI
Biaya Produksi adalah biaya yang harus dikeluarkan oleh pengusaha untuk dapat menghasilkan output. Kegiatan produksi dapat terlaksana apabila tersedia faktor-faktor produksi. Seorang pengusaha (entrepreneur) yang ingin melakukan produksi tentu harus terlebih dahulu  menyediakan faktor-faktor produksi itu.
            Semua faktor produksi itu tidak didapat dengan cuma-cuma, melainkan harus membeli. Karena tidak ada satupun faktor produksi yang merupakan barang bebas, semuanya adalah barang ekonomis yang jumlah atau tersedianya adalah langka (scarce) sehingga dalam mendapatkannya  harus dilakukan pengorbanan. Adapun bentuk pengorbanan yang jelas  adalah pembelian.
            Biaya produksi, dengan demikian, tidak lebih dan tidak kurang daripada penjumlahan harga-harga faktor produksi. Sekalipun besarnya biaya produksi untuk setiap output tidak semata-mata hanya tergantung pada harga pembelian.
            Jelasnya biaya produksi adalah nilai semua faktor produksi yang dipergunakan untuk menghasilkan (memproduksi output).
            Maksud istilah nilai adalah bahwa semua faktor produksi yang dipergunakan untuk menghasilkan output itu haruslah dinilai dengan uang, jadi harus ditetapkan harganya.

B.     PENENTUAN HARGA FAKTOR PRODUKSI
Suatu output tertentu yang dihasilkan dengan sesuatu tingkat teknologi tertentu, katakanlah 1.000 buah sepeda dalam seminggu, oleh sebuah perusahaan sepeda, misalnya, tentu akan mempergunakan serangkaian input atau faktor produksi yang dipergunakan untuk menghasilkan sekian banyak jam kerja darai pelbagai jenis pekerja, pengawas, manager dan ahli-ahli teknik, sekian banyak besi dan baja,  kawat-kawat, cat, biaya listrik dan air dan jasa-jasa lain, kaca, serta sekian banyak lagi jam kerja mesin yang semuanya mencerminkan serta membutuhkan pembiayaan. Untuk mrngetahui biaya dari segala macam penggunaan input ini, maka nilai dari setiap input itu, diukur dengan uang dan haruslah dihitung. Jumlahnya merupakan biaya total (total cost) pembuatan 1.000 buah sepeda itu dalam seminggu
.       
C.     PENENTUAN HARGA FAKTOR PRODUKSI MODAL
Biaya faktor produksi dalam menghasilkan output itu tergantung sepenuhnya pada dua hal, yaitu :
Berapa besar biaya yang harus dikeluarkan oleh perusahaan untuk mendapatkan input; yakni harga input.
Efisiensi perusahaan yang bersangkutan dalam mempergunakan inputnya. Dua perusahaan yang memiliki input yang persis sama, tetapi yang satu bekerja dengan lebih efisien (dengan efisiensi yang lebih besar) dari yang lain, maka sudah barang tentu bahwa perusahaan yang bekerja dengan lebih efisien itulah yang dapat lebih menekan biaya produksinya
Telah sejak semula para ahli ekonomi memandang penting persoalan biaya produksi. Alasannya adalah karena jasa-jasa faktor produksi itu adalah langka adanya, dan dengan demikian bernilai. Jadi, dengan mempergunakan faktor-faktor produksi, perusahaan yang bersangkutan telah mempergunakan benda-benda yang bernilai. Oleh karena itu tujuan utama suatu perusahaan adalah untuk mendapatkan  laba semaksimal mungkin
Oleh sebab itu, pengetahuan akan besarnya biaya-biaya produksi merupakan .prakondisi untuk mengetahui besarnya laba atau keuntungan, sedangkan pengetahuan akan keuntungan ini perlu sekali untuk dapat memahami tingkah laku (behavior) perusahaan. Demikianlah, pengetahuan akan biaya-biaya produksi itu perlu.
Untuk melukiskan tingkah laku aktual perusahaan
Untuk dapat meramalkan bagaimana tingkah laku perusahaan dalam menghadapi perubahan-peruabahan kondisi yang dihadapinya
Untuk membantu perusahaan yang bersangkutan dalam menentukan kebijaksanaan yang terbaik yang dapat dilakukannya dalam mencapai tujuannya (yakni, mencapai laba maksimum)
Untuk dapat memberikan penilai betapakah caranya perusahaan mengelola sumber-sumber (resources).
Dalam pada itu, sumber-sumber yang dipergunakan didalam produksi dapat dibagi menjadi dua ketegori utama. Yang pertama adalah sumber-sumber/input yang jumlahnya tetap saja sekalipun jumlah output yang dihasilkan itu tetap bertambah  ataupun berkurang. Sumber-sumber sedemikian ini disebut sebagai sumber-sumber tetap (fixed resources).   Sumber-sumber/input yang dimaksud disini dapat berupa tanah, bangunan, mesin-mesin besar, dan sebagainya. Yang kedua adalah sumber-sumber/input yang jumlahnya senantiasa berubah-ubah seiring dengan berubah-ubahnya output yang dihasilkan. Artinya, input jenis kedua ini akan bertambah jika output yang dihasilkan bertambah, dan berkurang jika output yanag dihasilkan berkurang. Sumber-sumber sedemikian ini disebut sebagai sumber-sumber variabel (variabel resources). Sumber-sumber yang disebutkan disini antara kain bahan mentah, pekerja dan sebagainya.

D.    KLASIFIKASI BIAYA
Klasifikasi biaya-biayanya, yakni : biaya tetap (fixed cost) dan biaya variabel (variable cost). Fixed cost adalah biaya-biaya untuk fixed resources, sedangkan variable cost adalah biaya untuk variable resources.
         Oleh karena fixed cost yang harus ditanggung oleh suatu perusahaan (dan daemikian pun dengan halnya dengan variable cost) bukan hanya berkenaan dengan satu jenis ongkos atau biaya saja – tetapi terdiri dari beberapa jenis biaya –maka penyebutan istilah fixed cost itul maksudnya adalah total fixed cost (TFC), dan penyebutan istilah variable cost itu maksudnya adalah total variable cost (TVC). Oleh karena itu, apabila disebutkan perkataan fixed cost, maka yang dimaksud adalah total fixed cost, sedangkan jika disebutkan variable cost maka yang dimaksudkan adalah total variable cost.

1.      Total Fixed Cost
Fixed cost  adalah biaya untuk fixed resources, dengan demikian,  oleh karena perusahaan tidak dapat mengubah-ubah jumlah sumber-sumber itu dalam proses produksinya, maka fixed cost itupun akan tetap saja besarnya, tidak perduli jumlah output yang dihasilkan. Gambaran  mengenai fixed cost
TABEL : Biaya-biaya Total
Output         Total Fixed Cost          Total Variable Cost           Total Cost
       0                  Rp 60,-                          Rp     0,-                     Rp   60,-
       1                  Rp 60,-                          Rp    20,-                    Rp   80,-
       2                  Rp 60,-                          Rp   32,-                      Rp    92,-
      3                   Rp 60,-                          Rp   39,-                      Rp    99,-
              4.                  Rp 60,-                          Rp   44,-                      Rp  104,-
  5.                  Rp 60,-                          Rp   48,-                      Rp  108,-
  6.                  Rp 60,-                          Rp  54,-                       Rp  114,-
  7.                  Rp 60,-                          Rp  63,-                       Rp  123,-
  8.                  Rp 60,-                          Rp  80,-                       Rp  140,-
Gambar 1.1
Pada kolom 2 (kolom TFC), terlihat didalam tabel itu, bahwa besarnya fixed cost itu tetap saja, berapapun jumlah output yang dihasilkan, yaitu sebesar Rp  60,-
Contoh-contoh bagi fixed cost (biaya tetap) ini dalam keenyataannya adalah sewa (rent), asuransi (insurance), biaya pemeliharaan (maintenance cost), biaya penghapusan (depreciation), bunga utang (interest), gaji (baik gaji karyawan maupun gaji pimpinan), dan sebagainya. Kesemua biaya yang tergolong dalam fixed cost itu bersifat independen  (tidak tergantung) terhadap besarnya output yang dihasilkan.
Oleh karena sifat indepensinya terhadap jumlah output inlah, maka bentuk kurva TFC nya
 

costs
          A                                                               TFC
                O                            output                                                gambar 1.2
                     Kurva TFC digambarkan sebagai sebuah garis lurus yang sejajar dengan sumbu datar (sumbu output. Besarnya fixed cost itu juga akan tetap saja, sekalipun jumlah output yang dihasilkan adalah 0, atau tidak ada outpun sama sekalli. Demikianlah, fixed cost tetap harus dibayar juga, sekalipun output adalah nol.
2.      Total Variable Cost (Biaya Variabel Total)
Variable cost merupakan biaya variable resources, sesuai dengan sebutannya sebagai biaya variabel, maka besarnya variable cost  itupun akan berubah –ubah pula seiring dengan  berubah-ubahnya jumlah output yang dihasilkan. Dengan demikian, biaya variabel itu akan naik jika jumlah output yang dihasilkan bertambah, dan akan turun jika jumlah output yang dihasilkan itu juga berkurang. Besarnya biaya variabel itu berbanding lurus dengan bertambahnya output yang dihasilkan.




 
                                                         TVC
Biaya (Rp)          
                                                                N
           
              0                       Output                                                      gambar 1.3
                     Variable cost adalah biaya yang senantiasa berubah searah dengan berubahnya jumlah output yang dihasilkan. Itulah sebabnya, kurva TVC ini mengarah ke kanan atas. Bagian kiri kurva itu landai, dan bagian kanannya curam. Batas antara keduanya adalah titik N. Kurva variable cost akan memiliki pola seperti : naik dengan tajam, lalu agak landai, untuk kemudian naik lagi dengan tajam.
         Contoh-contoh variable cost itu, dapat disebutkan disini antara lain misalnya : pembayaran-pembayaran untuk upah buruh (hendaknya senantiasa diingat, bahwa upah tidaklah sama dengan gaji), bahan-bahan mentah, bahan bakar, pengangkutan dan sebagainya.
3.      Total Cost (Biaya Total)
Biaya-biaya total (total cost) merupakan penjumlahan daripada jenis biaya yang ada. Sebenarnya demikian total cost (TC) merupakan penjumlahan seluruh biaya yang dikeluarkan baik untuk fixed resources maupun untuk variable resources; atau dengan kata lain, total cost adalah jumlah fixed cost dan variable cost.
                     TC   =  FC + VC
Dimana TC adalah biaya total , FC adalah biaya tetap dan VC adalah biaya variabel.
Oleh karena itu biaya variabel mereupakan unsur biaya total seperti itulah, maka biaya total itupun lalu memiliki sifat sebagaimana yang juga dimiliki oleh biaya variabel, yaitu bahwa besarnya biaya total itu berubah-ubah seiring dengan berubah-ubahnya jumlah output yang dihasilkan. Kenyataan bahwa biaya tetap juga merupakan unsur biaya total tidaklah mengubah sifat biaya total itu. Sebab biaya tetap merupakan biaya yang tetap tidak berubah oleh karena adanya perubahan jumlah output yang dihasilkan.
         Sesuatu yang tetap , apabila digabungkan dengan sesuatua yanga lain namun memiliki sifat yang berubah-ubah, maka yang tetap itu akan terbawa untuk mengikuti sifat yang berubah-ubah itu, sehingga secara keseluruhan kedua-duanya akan memiliki sifat variabel (berubah-ubah). Demikian itu halnya dengan  biaya total, yang walaupun terdiri dari anasir baiya tetap (yang memiliki sifat tidak berubah-ubah karena adanya perubahan jumlah output)  dan biaya variabel (yang memiliki sifat berubah-ubah seiring dengan perubahan jumlah output), namun  hasil akhir merupakan biaya yang besarnya berubah-ubah seiring dengan perubahan output yang dihasilkan.
(a)                                                                             (b)
Biaya (Rp)                            TC                             Biaya (Rp)                                                          TC
                                               VC                           
             FC                                                                                           VC
                           VC                                              A
         0                                         Q                         0                   FC                   Q

Gambar 1.4
Hubungan antara kurva TC dan kurva VC.
Selisih antara VC dan TC adalah FC (yakni TC = FC + VC). Gambar (a) menunjukkan bahwa, oleh karena biaya tetap (FC) itu selalu tetap (sebesar OA), maka (i) jarak yang memisahkan antara kurva TC dan kurva VC selalu sama, yakni sebesar OA, dan (ii) kurva TC dan kurva VC itu memiliki bentuk yang persis sama , hanya saja kurva TC terletak diatas kurva VC dan tidak dimulai dari titik nol.
Gambar (b) menunjukkan sekali lagi bahwa TC = FC + VC dan bahwa kurva TC dimulai dari tingkat biaya tetap sebesar Rp OA.
Maka  besarnya biaya total :
1.      Merupakan penjumlahan biaya tetap dan biaya variabel,
2.      Berubah-ubah seiring dengan perubahan jumlah output yang dihasilkan.
Dalam pada itu, apabila biaya total itu digambarkan dalam bentuk grafik, maka gambarnya terlihat seperti gambar 1.4 diatas. Bentuk kurva TC sama dengan bentuk kurva VC, serta antara keduanya (yakni antara kurva biaya total dan kurva biaya variabel) terpisahkan oleh suatu jarak vertikal yang selalu sama. Tentu saja demikian, sebab apa yang digambarkan sebagai kurva TC  didalam gambar 1.4  itu tidak lebih dan tidak kurang daripada kurva VC yang digeser ke atas. Pergeseran itu adalah sebesar biaya tetap yang ada. Dalam gambar diketahui bahwa biaya tetap adalah sebesar OA, maka sampai sejauh OA itulah kurva biaya variabel digeser ke atas, sehingga hasil akhirnya adalah terbentuknya sebuah kurva biaya total. Itulah sebabnya, kurva TC dan kurva VC itu terpisahkan oleh jarak vertikal yang selalu sama, berapapun jumlah output yang dihasilkan. Besarnya jarak vertikal yang memisahkan kurva TC dengan kurva VC itu sudah barang tentu adalah sama dengan OA, sebab selisih antara biaya total dan biaya variabel untuk setiap tingkat output adalah sebesar biaya tetap.
Semua keterangan diatas juga menerangkan, mengapa kurva biaya total TC tidak bermula dari titik nol. Sebabnya adalah karena biaya total merupakan penjumlahan biaya variabel dan biaya tetap. Pada saat tidak ada output yang dihasilkan sama sekali, yaitu dititik nol (pada saat besarnya biaya variabel adalah yang juga sama dengan nol), maka biaya tetap tidaklah sama dengan nol pula. Dengan demikian, besarnya biaya total pada saat tidak ada output  yang dihasilkan sama sekali adalah sama dengan biaya tetap.

E.     BIAYA-BIAYA RERATA
Dalam konsep biaya-biaya total (biaya tetap total, biaya variabel total dan biaya total) ketiga-tiganya dapat dicari nilai reratanya. Rerata sebenarnya adalah kata lain saja untuk mengatakan per satuan output, atau setiap satuan output.
Macam-macam biaya rerata :
1.      Average Fixed Cost (Biaya Tetap Rarata)
Fixed cost curve (kurva biaya tetap) memiliki bentuk yang datar sama sekali (horizontal). Adapun average fixed cost  (AFC) adalah biaya tetap untuk setiap satuan output yang dihasilkan. Dengan demikian, biaya tetap rerata didapat dengan cara membagi biaya tetap dengan jumlah output, atau ;
                     AFC = FC : Q
Dimana AFC adalah biaya tetap rerata, FC adalah biaya tetap dan Q adalah jumlah output yang dihasilkan.
Output
Avarage Fixed Cost (AFC)
Average Variable cost (AVC)
Average Cost (AC)
Marginal Cost (MC)
0
-
0
*
60
1
60
20
80
20
2
30
16
46
12
3
20
13
33
7
4
15
11
26
5
5
12
9,6
21,6
4
6
10
9
19
6
7
8,57
9
17,57
9
8
7,5
10
17,5
17
9
6,67
12
18,67
28
10
6
15
21
42
Gambar 1.5
*seharusnya isinya tak terhingga (∞), sebab sesuatu bilangan apabila dibagi dengan nol, niscaya hasilnya adalah tak terhingga.
Tetapi penyebutan itu sendiri tidak akan membawa manfaat apapun, sebab dalam kenyataanya tak seorangapun yang dapat  membagi 50 dengan nol. Itulah sebabnya, didalam grafiknya akan dimulai dari tingkat output terbesar (1) saja dan tidak dari nol.
Didalam tabel pada gambar 1.5, besarnya biaya teatap rerata terlihata pada kolom dua. Ada sebuah kenyataaan dari angka-angka yang terdapata dalam tabel tersebut. Disitu terlihat bahwa besarnya biaya tetap rerata itu senantiasa menurun dengan bertambahnya  jumlah output yang dihasilkan. Oleh karena biaya tetap itu samasaja untuk setiap jumlah output yang dihasilkan, maka semakain banyak jumlah output itu , itu berarti bahw biaya dipikul bersama-sama oleh jumlah output yang semakin banyak itu.
Akibatnya, setiap satuan output hanya memikul beban biaya yang semakin sedikit pula. Dengan demikian, bahwa dengan semakin banyak jumlah outpupt yang dihasilkan , maka semakini sedikit biaya tetap reratanya.   Maka gambar kurva AFC (kurva biaya tetap rerata)
biaya rata-
rata (Rp)

                                                                     AFC
               0
Gambar 1.6
          Biaya tetap rata-rata (average fixed cost) adalah biaya tetap per satuan output (FC/Q). Bentuk kurvanya adalah sebuah lengkungan hiperbolik. Terlihat bahwa kurva AFC merupakan sebuah garis lengkung yang mengarah ke kanan bawah, sebab harus diingat bahwa kedua ujung kurva AFC itu tidak pernah menyinggung (apalagi memotong) sumbu-sumbunya.

2.      Average Variable Cost
Biaya variabel raerata didapat dengan cara membagi biaya variabel dengan jumlah output.
                        AVC = VC : Q
Dimana AVC adalah average variable cost, VC adalah variable cost, dan Q adalah jumlah output yang dihasilkan.
Biaya variabel rerata adalah besarnya biaya variabel untuk setiap satuan output, besarnya biaya variabel yang ditanggung oleh setiap output yang dihasilkan.
Didalam tabel 1.5, biaya variabel rerata di kolom tiga. Terlihat dengan jelas bahwa baiya variabel rerata meraupakan hasil bagi antara biaya variabel total (dari kolom tiga) dengan jumlah output.
Adapun biaya variable rerata selalu berbentuk U :
                       
            Biaya 3
            rata-
     rata (Rp)

                     L


 
                              0                       Q                  Output                              Gambar 1.7
         Biaya variabel rata-rata (average variable cost) adalah biaya variable persatuan output (VC/Q). Bentuk kurvanya menyerupai huruf U. Titik terendah kurva biaya variabel rata-rata ini (titik K) disebut shut-down point atau titik gulung tikar, maksudnya, jika penjualan output lebih rendah daripada OL satuan, maka firm yang bersangkutan harus gulung tikar.
3.      Average Cost (Biaya Rerata)
Average cost adalah biaya rerata atau biaya per satuan output.
Average cost adalah besarnya biaya total per satuan output.
                     AC = TC : Q  
Dimana AC adalah average cost, TC adalah total cost , dan Q adalah jumlah output yang dihasilkan.
Sebagaimana biaya total merupakan penjumlahan biaya tetap dan biaya variabel maka demikian pun halnya biaya rerata merupakan penjumlahan biaya tetap rerata dan biaya variabel rrata.
                     AC = AFC + AVC
Kenyataan ini dapat dibuktikan dalam tabel pada gambar 1.5.
Didalam tabel itu , biaya rerata terdapat didalam kolom 4 dan untuk setiap jumlah output yang dihasilkan, biaya rerata ini merupakan penjumlahan antara biaya tetap rerata dengan biaya variabel rerata. Hal inipun dapat pula dilihat dari kenyataan bahwa oleh karena :
                     FC + VC = TC
         maka, sebagai akibatnya, sudah tentu bahwa
                     FC       +          VC      =          TC
                      Q                    Q                    Q
         atau                 AFC + AVC = AC
oleh karena biaya rerata merupakan penjumlahan biaya tetap rerata dengan biaya variabel rerata seperti itulah, maka ia pun memiliki sifat yang dimiliki oleh kedua-duanya


4.      Marginal Cost
Marginal cost adalah biaya marginal atau biaya tambahan untuk setiap output.  Dengan demikian marginal cost dapat diketemukan dengan cara :
                     MC      =            TC     :           Q
         atau                 MC =  (TC2      TC1 ) : (Q2  ─ Q1)
atau, jika perubahan output itu kecil sekali, maka MC didapatkan dari turunan pertama biaya total TC terhadap output , yakni :
                     MC = dTC : dQ
Dimana MC adalah biaya marginal, TC adalah biaya total dan Q adalah jumlah output yanga dihasilkan. Dari prhitungan semacam itulah didapatakan angka-angka seperti yang tercantum didalam tabel pada gambar 1.5  , kolom terakhir. Angka-angka biaya marginal didalam tabel itu terlihat bahwa nilai-nilai biaya mula-mula turun, dan kemudian sesudah itu lalu naik, atau dengan kata lain, bentuk kurva biaya marginal itu juga berbentuk menyerupai huruf U.
Biaya marginal MC juga dapat dinyatakan dari biaya variabel VC :
                     MC =  dTC  : dQ
atau               MC = (d (FC + VC)) : dQ
yakni            MC = (dFC : dQ)   +    (d VC  : dQ)
atau              MC =   0  + (dVC : dQ)
atau              MC =  dVC : dQ
memperhatikan keterangan diatas, dapatlah kemudian dengan mudah dipahami bahwa :
                     MC =  (VC2  ─ VC1)   :   (Q2    Q1)
atau              MC =         VC   :      Q

DAFTAR PUSTAKA

          Buku yang dipakai sebagai dasar penulisan makalah ini :
          Rosyidi, Suherman: Pengantar Teori Ekonomi, Rajawali Pers, Jakarta,2001.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar