Kamis, 09 Oktober 2014

KASIH YG MEMBELAH JIWA



TUGAS
MATA KULIAH AGAMA KRISTEN

Logo UNIPA.jpg
Universitas PGRI Adi Buana Surabaya


JUDUL BUKU : KASIH YANG MEMBELAH JIWA
PENULIS : MARRY JONATHAN


Nama                 : Desi Nur Damaiyanti
Prodi                 : Akuntansi / 2014
No.Reg              : 14-160-0113



BAB 1

-BERMULANYA PELAYANAN –
AKU. Disini adalah bu Marry Jonathan .
Pelayananku bermula dari sebuah mimpi. Pada tahun 2000, dalam mimpi, aku melihat TUHAN melayang di udara duduk bersilang kaki .  JubahNya melambai-lambai ditiup angin . senyumNya khas menusuk sampai ke lubuk hatiku. Tubuhku terasa dingin dan segar karena senyumNya itu.
            “TUHAN , apakah itu Engkau ?” , tanyaku .
            “Ya, anak-Ku.”
            “Aku mau ikut .” , pintaku.
            “Belum waktunya .”
            “Pokoknya aku mau ikut sebentar. Bawa aku sekarang. TUHAN. Tolong, bawa aku bersamaMu , sebentar saja. “
            Aku terus memohon sehingga TUHAN mengambil tangan kiriku                        dan membawaku terbang berputar-putar berkeliling udara. Dalam genggaman TUHAN, aku merasa bagaikan anak kecil. Tak lama, aku dicampakkan ke bawah. Aku terhempas di sebuah desa kecil dan kembali menjadi tua.
            “TUHAN, ini dimana?”
            “Pulau Bintan.”
            “Bagaimana aku pulang?”
            “Kamu pasti bisa pulang.”
            “Lalu,untuk apa aku disini?
            “Berkerja anakKu, Bekerja.. bekerja.”

            Kemudian TUHAN meninggalkanku yang sedang kebingungan. Disitu, kulihat ada orang dengan kereta lembu. Ku hampiri mereka dan bertanya, “Bagimana caranya pulang ke Malaysia ?” , tiga orang itu hanya   menggeleng. Seorang dari mereka  menunjukkan arah ke pusat pulau Bintan.
            Sekejap aku terbangun. Masih bingung , tapi merasakan sukacita luar biasa. Hingga berhari-hari aku masih merasakan kebahagiaan dalam genggaman TUHAN.  Sepanjang hari, aku terus mencari peta Malaysia. Kucari dimana letak Pulau Bintan. Bahkan aku menggunakan kaca pembesar untuk menemukannya. Fikirku pulau itu terlalu kecil. Jadi aku terus mencari lagi. Kucari lagi.. ku cari lagi. Tidak ketemu.
            Aku mulai ragu. Hati kecilku mulai berkata, itu semua hanya  mimpi dan mengapa harus difikirkan.
            Namun, sebaliknya ada suara lain yang berkata , “Bekerja anak-Ku, bekerja...” suara TUHAN.
            Suara itu terus terngiang di telingaku dan  menjadi beban berat di dadaku.
            Aku mulai protes kepada TUHAN, “TUHAN !!! Kerja apa sih yang bisa kulakukan untukMu? Aku tidak bisa menyanyi. Tidak sekolah Alkitab, yang aku tahu hanya berdagang.”
            Sejak  hari itu , tanpa henti aku memikirkan apa yang bisa ku kerjakan untuk TUHAN. Mulailah aku   membersihkan WC  gereja tiap hari minggunya. Namun suara itu terdengar semakin jelas dan nyaring.
            Aku mulai bekerja untuk TUHAN dengan caraku sendiri. Sambil berdagang , aku terus menceritakan YESUS kepada setiap pembeli. “Akulah jalan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui aku.” Yohanes 14:6 .
            Firman TUHAN itu kubawa kemana-mana dan ku ceritakan kepada semua orang. Tidak ada seorangpun percaya kepadaku. Malah banyak pelangganku mengancam memberitahu pada semua orang agar tidak membeli barang dariku lagi. Aku menjawab, “Aku tidak takut. Hidup matiku dadn makan atau tidak, semua sudah kuserahkan pada-NYA.
            Ancaman mereka terbukti benar. Setelah mengumpulkan orang dan mengadakan kebaktian ditepi hutan, pelangganku tidak ada yang membeli barangku lagi. Tapi aku masih datang ke tempat itu dan berdoa untuk tempat itu. Akhirnya TUHAN membuka jalan. Salah satu pelangganku sakit parah. Aku dan suamiku datang menumpangkan tangan kepadanya dan ia sembuh.
            Tak lama setelah itu, pelangganku kembali semua. Dan aku terus menceritakan YESUS kepada semua orang. Tiap orang yang mendengar nama YESUS  pasti segera pergi.  Aku heran, mengapa orang-orang ini alergi mendengar nama YESUS ?
Maka aku membuat perjanjian dengan TUHAN sesuai dengan firman-NYA pada Yohanes 15:16  yang berbunyi , “ Bukan kamu yang memilih AKU, tetapi AKUlah yang memilih kamu. Dan AKU telah menetapkan kamu supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta pada BAPA dalam nama-KU diberikan-NYA kepadamu.”
Siapapun yang dipilih  TUHAN aku meminta tanda. Siapapun yang akan disembuhkan TUHAN akan memberi tanda juga. Berarti pekerjaanku hanya menunggu komando dan penglihatan dari TUHAN.
Dengan perjanjian ini, aku slalu mendapat tantangan dan hinaaan dari hamba TUHAN dan anak-anak TUHAN lain yang mengatakan penglihatan serta mujizat kesembuhan itu berasal dari setan. Malah aku pernah dipermalukan didepan para remaja waktu doa bersama.
Ketika itu, seusai doa aku bertanya pada seorang remaja,
 “Non, semua  orang disini merasakan urapan,  semua menangis, anehnya kamu tidak. Fikiranmu malah kekantor dan mall.”
“Benar tante. Bagimana tante tahu? Sampai hari ini saya belum merasakan jamahan TUHAN, baik di  gereja atau dimana saja.”
“Aku melihat topi kecil dikepalamu. Selagi topi itu tidak dibuang, maka kamu tidak pernah nyambung saat berdoa.” Kataku.
Lantas aku meminta bantuan pemimpin doa untuk mendoakan remaja ini. Tapi aku malah di tengking. Ia begitu marah dan mengusir roh-roh penyusupan. Katanya : “ disini tidak ada yang lebih hebat, aku patahkan roh-roh ketergantungan pada segala penglihatan.”
Namun, meski aku ditengking sedemikian rupa, aku masih melihat topi kecil itu. Kutanya pada remaja tadi, mengapa ia melakukan  hal itu kepadaku?
Katanya , “ sudah tujuh tahun ia menjaga menara doa dan tidak pernah ada penglihatan-penglihatan.” Sementara aku selalu mendapatkan penglihatan dan itu semua terjadi. Mendengar hal itu aku kasihan kepadanya. Mungkin hamba TUHAN ini lupa akan firman-NYA, “Kepada yang seorang  Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia membedakan bahasa roh dan kepada yang lain , Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu.”  1 Korintus 12:10.
Firman TUHAN ini menunjukkan bahwa TUHAN memberikan karunia yang berbeda-beda pada semua anak-Nya.  TUHAN memberikan karunia sesuai dengan tugas masing-masing. Sangat mudah bagi manusia mengasihi TUHAN waktu menerima berkat dan mujizat. Tapi mempertahankan kasih dan kesetiaan itu sangat berat, apalagi menghadapi tantangan, aku selalu ke kamar doa dan meminta kekuatan dari TUHAN. Markus 3:22 , “dan ahli-ahlli taurat yang datang dari yerusalem berkata : ia kerasukan beelzebul, dan dengan penghulu setan, ia mengusir setan.”
Dengan memahami firman TUHAN ini , aku kembali bersemangat. Sebuah ajaran penting : anak-anak TUHAN seharusnya tidak mudah mengatakan bahwa diri orang tertentu ada kuasa setan. Kalaupun kita berani mengatakan demikian, maka kita pun harus menyingkirkannya, sebab ada tertulis dalam 1 Yohanes 4:4 yang berbunyi , “ kamu berasal dari ALLAH, anak-anak-KU, dan kamu telah mengalahkan nabi palsu itu, sebab Roh yang ada dalam kamu lebih besar dari pada roh yang ada dalam dunia ini.”
Kita sesunggguhnya tahu bahwa Roh Kudus tidak pernah sejalan dengan roh jahat. Dan karena Roh yang ada dalam diri kita lebih besar,  maka kita mampu mengusir semua roh jahat yang ada disekeliling kita.
Dalam keseharian. Hampir tengah malam aku berada dalam kamar doa hanya untuk menyembah TUHAN saja. Hari-hariku lebih banyak berselimutkan puasa. Pernah aku mendoakan seseorang yang tak kunjung sembuh. Aku senantiasa berada dibawah kaki TUHAN. Aku bertanya, apa yang harus ku lakukan ? Biasanya TUHAN menjawab, puasa selama 3 hari. Aku haraus taat pada TUHAN meski hidupku lebih banyak bergaul dengan puasa untuk orang-orang yang tidak ku kenal.
Dalam pelayanan, kami sering mengahadapi ujian ketaatan. Saat  berdagang, Jonathan, suamiku berdoa, TUHAN sudah 1 minggu kami melayani orang sakit dan pelepasan terus-menerus. Sekarang kami sudah lelah. Jangan berikan pelayanan apapun kepada kami hari ini saja. Kami hendak berdagang.
Saat kami baru saja mulai berdagang, dering handphone, ada panggilan pelayanan, seorang anak namanya Dorus tengah dirasuki setan. Ku jawab, nanti saja kami sedang berdagang. Namun suara itu terdengar panik dan setengah putus asa. Kamipun mengakhiri jualan kami yang singkat pada hari itu. Sesampainya kami disana, barulah Dorus bisa tenang dan tidak mengamuk lagi.
Suatu hari, aku melihat seekor binatang iguana menempel di punggung seorang pekerja bangunan asal Lombok, bernama Asmuni. Tubuh binatang itu berlendir. Kuceritakan hal itu pada Jonathan agar ia berdoa untuk orang tersebut.
Jonathan berkata : “ aku akan minta tanda dari TUHAN sekali lagi.”
Kujawab : “ kalau ia besok datang lagi dan mengambil kursi untuk duduk di sebelahku, maka TUHAN menyerahkan beban itu kepada kita.”
Esoknya, ketika kami hendak membuka dagangan, ternyata orang itu telah menunggu kami. Lalu mengambil kursi dan duduk persis disebelah saya. Melihat itu, Jonathan tersenyum. Akupun memulai percakapan.
“siapa nama Bapak ? “
“Asmuni”
“Bapak mempunyai penyakit aneh. Jika bapak percaya TUHAN, saya bisa menyembuhkan.”
“saya percaya, Ibu. Tapi sekarang saya belum punya uang.”
“Yang dari TUHAN itu gratis,Pak. Tapi kenapa bapak mudah sekali percaya?
“ Saya sudah sakit selama 12 tahun. Selama itu saya sudah berobat ke puluhan dokter dan dukun. Sudah membayar mshsl tetapi tidak sembuh juga. Banyak dokter menggunakan alat canggih namun tidak bisa mengetahui sakit saya. Setiap dokter yang saya jumpai selalu mengatakan jenis penyakit yanga berbeda-beda. Dan hanya sekali pandang saja, Ibu sudah mengetahui saya sakit. Berarti Ibu lebih hebat daripada yang lain.”
“Ohh..begitu, bukan saya yang hebat dan yang akan menyembuhkan Bapak. Nama-Nya YESUS, dan Bapak harus menjemput-Nya sendiri untuk minta tolong.”
“saya tidak pernah mengenalnya Bu. Bagaimana saya bisa menjemputnya?”
Aku menyuruhnya menunggu kami hingga usai berjualan. Usai berjualan kami mengajarkan Pak Asmuni untuk menjemput TUHAN dalam hatinya. Ia kelihatan bersemangat dan mengikuti kami dengan cermat. Kemudian Jonathan berdoa dan meletakan tangan di rambut bapak itu. Sedangkan aku berada di  belakangnya untuk mengambil binatang itu serta mencampakannya jauh-jauh.
Keesokan harinya aku sangat terkejut melihat badan bapak Asmuni yang tadi malam gemuk menjadi kurus dalam semalam, dan wajahnya bersinar penuh sukacita.
“Hai bapak, kenapa jadi kurus begini ? apa yang terjadi ?”
“Saya memang tidak pernah gemuk.  Selama ini badan saya hanya bengkak. Setelah lbu pulang, saya batuk-batuk tanpa henti. Padahal saya tidak sedang batuk. Saya batuk terus-menerus hingga saya muntah, setelah muntah dari seluruh pori-pori badan saya keluar angin.  Terima kasih Ibu.”
“Sama-sama pak, jangan lupa berterimakasih pada namanya YESUS. Besok bapak juga harus membawa semua jimat bapak  kemari. Jangan ada satupun yang tertinggal. Kalau bapak masih menyimpannya, bapak masih bisa diserang lagi.”
Esoknya pak Asmuni membawa satu bungkusan besar berisi macam-macam jimat. Saat itu aku berjualan dengan anak sulungku. Kusuruh pak Asmuni membakar jimat dan aku  mengurapinya dengan minyak zaitun. Jimat-jimat itu meletup ke udara dan bersamaan itu aku melihat gunung kecil diatas kepalaku seperti hendak jatuh menimpa tubuhku dan tubuh pak Asmuni.
“Riss!! Cepat! Setannya disini!! ” , teriakku pada si sulung.
Kemudian kita bersama-sama meneriakkan, “Dalam Nama TUHAN YESUS. Kuhancurkan!!!”  Tangan kami terangkat ke atas dan gunung itu hancur bagaikan pasir.
Sejak hal itu terjadi , seusai kerja , aku selalu menceritakan tentang injil Yohanes 14:6. Orang-orang mendengarkan dengan perhatian dan seksama. Tak ada lagi yang alergi pada nama YESUS. Banyak jiwa mulai dimenangkan bagi YESUS. Dan aku mulai menyadari, beginilah caranya bekerja untuk TUHAN.
Pak Asmuni sendiri selalu menceritakan apa yang dialaminya dari mulut ke mulut. Banyak orang mencari aku dan suamiku untuk didoakan. Kami melayani TUHAN terus dengan sukacita.








BAB II
-PULAU BINTAN-

Beberapa tahun aku mencari letak Pulau Bintan. Akhirnya TUHAN menunjukkannya kepadaku dengan mengantar seorang hamba TUHAN bernama Ruben Lalang datang ke rumahku.
            “Apa Pastor pernah mendengar nama Pulau Bintan ?” tanyaku
            “Malah aku sering kesana.”
            “Apakah Pastor bisa mengantar saya kesana ?
            “Boleh, kapanpun Ibu mau pergi, saya siap mengantar.”
Ku katakan pada TUHAN, aku siap pergi ke Bintan. Tetapi suamiku tidak mengizinkanku pergi sendiri. Aku pun berdoa untuk meminta teman yang bisa menemaniku disana .
Esok harinya datanglah Betty , seorang pendoa syafaat dari Jakarta. Waktu Betty datang, aku sempat protes pada TUHAN. Karena Betty wajahnya gak seram dan  suaranya lantang. Aku ragu ia bisa menjadi temanku dalam pelayanan. Namun setelah mengenal Betty, ternyata hanya luarnya yang tampak seram, hatinya putih bagai mutiara. Dia selalu ada disaat aku perlu dan ia juga tidak sok menjadi pemimpin meski dia lebih senior. Kami saling menopang dalam pelayanan dengan penuh sukacita. Aku merasa benar-benar pas  bila bersamanya.
Aku belum tahu apa tujuanku pergi ke pulau Bintan, kemana dan untuk apa. Maka kami pun berdoa dan berpuasa selama 2 minggu. Dalam doa puasa itu, aku mendapatkan penglihatan yang sama sebanyak 3 kali. Aku melihat diriku sedang menanam sobekan Allkitab ditempat yang luas dan sarat dengan rumput ilalang. Kata Betty, aku harus mematok tempat itu dengan cara mendoakan tempat yang berhubungan dengan pelayanan.
Maka rombongan kami berangkat. Aku, Joe menantuku, Betty dan Pendeta Ruben Lalang. Aku sendiri tidak berani berhenti berdoa sebab Pulau Bintan sangat luas san kami taidak tahu harus berada disisi mana dari pulau itu. Doaku terus naik tanpa putus , agar TUHAN sendiri yang menuntun kami kesana.
Akhirnya kami tiba di Tanjung Uban. Pak Purba, penatua gereja disana membawa kami ke GKI. Para penatua disana menyambut kami dengan sangat baik, padahal aku hanya penginjil  jalanan yang tidak dikenal.
Ketika para penatua gereja berkumpul, aku menceritakan tujuanku datang kesana, yakni mencari padang ilalang. Setelah mendengar penuturanku, mereka mengatakan bahwa tidak ada tempat seperti yang kumaksud tersebut. Aku terkejut tidak percaya, karena selama ini penglihatanku terjadi semua dan memiliki fakta. Aku sangat yakin tempat  itu ada, sehingga mereka mau mengantarku berkeliling kota untuk menemukan tempat itu.
Dalam perjalan, aku eterus berdoa kian  sungguh-sungguh agar Pak Ayub pemilik mobil yang mengantarkan kami mengarah pada tempat yang kucari. Selain Pak Ayub, kami juga ditemani oleh Pak Yance dan Pak Sulistyo., keduanya adalah penatua GKI. Kami bertujuh berputar mengelilingi kota, hingga tempat itu benar-benar ada.
Dengan takjub, kami melangkah turun dari mobil. Dengan kesungguhan , kami berdoa bagi tempat itu. Aku berdoa dan menghamparkan darah YESUS dari satu ujung ke ujung lainnya. “ Jadilah semua rancngan-Mu, ya TUHAN. Biar kehendak BAPA saja yang akan terjadi. Amin.”
Sebelum pulang kami singgah dirumah jemaat yang sudah lama tidak pergi ke gereja dan berdoa untuk mereka. Kamipun pulang kembali ke Malaysia.
Pada malam hari, delapan orang dirumahku mendapatkan mimpi yang sama. Ada seorang wanita berdandan layaknya seorang ratu. Wajahnya berubah-ubah. Cantik... buruk..cantik...buruk... terus berubah-ubah. Ia datang ketempatku dengan riibuan rakyat. Ia mengatakan, ia harus pindah kerumahku kareana katanya, “Marry sudah menghancurkan kerajaan serata tanah.”
Aku heran, “kok hanya aku? Bukankah kami bertujuh?”
Gadis kecilku Rhema, menjerit-jerit di tengah malam. “ratu jelek itu menginjak perutku.”  Rhema mengeluh buang air besar tapi itu tak bisa dilakukannya. Iamnegeluh ingin buang air kecil tapi juga tak dapat dilakukannya. Kami berdfoa bersama-sama  dan mengusir iblis itu sehingga pergi. Rhema pun dapat tertidur dengan pulas.
Esoknya semua orang dirumah mendapatkan mimpi yang sama dan terjadi selama dua minggu. Aku meminta pdt Daniel dan pdt Liana beserta suaminya untuk datang kerumah. Kami sekeluarga berkumpul. Kami bernyanyi bersama dan rumahku dipenuhi urapan Roh Kudus.
Aku sempat bertanya –tanya, mengapa kami bisa diserang, padahal pekerjaanku adalah mengusir setan. Jawaban pdt Ruben Lalang memberikanku semangat, “saya kan ikut ibu pergi dan melihat tidak ada yang istimewa ditempat itu. Kalau tidak terjadi serangan hebat, kita tidak tahu kalau ibu tengah melakukan pekerjaan TUHAN yang dahsyat.
Kali kedua saya pergi ketempat itu, aku bersaksi di GKI tentang serangan yang kami hadapi ketika pulang dari sana. Mendengar  itu, para penatua GKI berkeliling disekitar tempat dengan menggunakan motor. Mereka berkeliling kampung disekitar tanah tersebut. Ternyata di kampung seluas itu, tidak seorang pun mengenal nama YESUS.
Aku ingin sekali membeli sedikit dari tanah itu untuk membuat pemancar radio rohani, tetapi pemilik tanah tidak mau menjual jika hanya sebagian kecil dari tanah itu. Tanahnya amat luas, namun aku percaya, jika TUHAN menghendakinya, maka TUHAN sendiri yang akan menentukan kapan waktunya bisa membeli tanah itu sehingga aku memiliki tempat untuk memuliakan TUHAN.
Dalam perjalanan pulang diatas kapal, aku duduk berdampingan dengan seorang gadis cantik, namanya Lisa. Dalam kesempatan itu aku mulai menceritakan YESUS kepadanya. Dia pendengar yang baik, tapi tidak ada reaksi apapun. Kemudain kutanyakan,
 “ Maukah kamu ku doakan?”
                          Spontan ia bertanya , “ Doa tentang apa?”
                         “Ya, kamu maunya apa?  Doa berkat jodoh atau keselamatan?”
                        Katanya , “Berkat dan Keselamatan.”
            Aku langsung topang tangan dan berdoa. Betapa terkejutnya aku ketika dalam doa, aku merasa ia memilliki dua suami. Ku tanyakan itu padanya. Dan jawabnya, Iya, yang satu berada di Singapura dan seorang yang lain di Malaysia, bahkan ia sedang mencari suami ketiga di Batam, agar mereka setiap bulannya mengirim uang dan ia tidak perlu bekerja lagi.
            Kuletakkan tanganku di atas kepalanya, kuusir roh najis dalam diriinya. Kulihat ada bayangan sepereti wayang kulit hitam keluar dari tubuhnya. Aku terus berdoa, supaya TUHAN yang menjamahnya. Tak lama ia tertidur sambil tersenyum, ketika ku bangunkan, dia marah, “Ibu ini kenapa sih? Mengganggu orang lagi senang aja.”
                        “Loh, apa yang terjadi? “
                        “Waktu ibu menopanagkan tangan, tiba-tiba seseorang berjubah putih di depan saya. Ia nampak agung dan tersenyum kepada saya. Senyum itu memancarkan sesuatu yang masuk dalam tubuh saya sehingga tubuh saya terasa dingin. Saya merasakan damai dan tenang sekali. Ya saya tidak tahu apa yang sebenarnya saya rasakan. Tetapi saya belum pernah merasakan seperti itu sebelumnya. Saya merasa damai. Senang....” , ujarnya.
                        “Nama-Nya YESUS. Dialah yang kuceritakan tadi. Maukah kamu menerima Dia sebagai TUHAN?”
             Lisa mengangguk. Aku memimpinnya berdoa. Menerima YESUS sebagai TUHANnya...
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar